Pages

TaBunG DerMa

Sunday, March 25, 2012

EtiKa KetiKa MaKan MeNgiKut SunNah RaSulLulLah S.A.W~~!!



Pengenalan

Rasulullah merupakan utusan yang terbaik yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada penganutnya yang mana merupakan satu anugerah yang tidak ternilai harganya. Sebagai pemberi tunjuk jalan kepada orang Islam Nabi Muhammad diwahyukan oleh Allah SWT dengan Al Quran dan juga sunnah yang perlu diikuti. Setiap gerak-geri dan perlakuan Rasulullah dikira mendapat pahala jika dilakukan.

Rasulullah juga telah mengajar kita umat Islam tentang banyak perkara termasuklah bab-bab pengurusan dalam kehidupan seharian sebagai Muslim. Islam telah mengajar umatnya tentang perkara hatta sekecil memotong hinggalah kepada sebesar bab bernegara dan berkhilafah. Ini jelas menyokong konsep kesyumulan Islam tersebut.

Dalam bidang pengurusan kita hari ini banyak berkiblatkan Barat atau orang bukan Islam dalam membudaya dan mengamalkan bab yang berkait dengan pengurusan padahal Islam seusai kewujudan telah mengariskan perkara tentang pengurusan melalui akhlak dan perlakuan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Peringkat seterusnya akan memfokuskan tentang pengurusan dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam menguruskan perkara sekecil makan dan minum menurut yang dijelaskan oleh perawi-perawi hadith yang mana telah dibukukan untuk dijadikan qudwah oleh kita sebagai seorang Islam yang beriman dan meletakkan keyakinan seratus peratus kepada Allah SWT.

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Umar r.a, sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: 
"Apabila salah seorang di antara kamu makan, hendaklah dia makan dengan menggunakan tangan kanannya dan apabila dia minum hendaklah dia minum dengan menggunakan tangan kanannya kerana sesungguhnya syaitan itu, dia makan dengan menggunakan tangan kirinya dan minum juga dengan menggunakan tangan kirinya." (Hadis riwayat Imam Muslim). 
 
- Memulai makan dengan mengucapkan Bismillah.

Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Apabila salah seorang diantara kalian hendak makan, maka ucapkanlah: ‘Bismilah.’ Dan jika ia lupa untuk mengucapkan Bismillah di awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillahi Awwalahu wa Aakhirahu (dengan menyebut nama Allah di awal dan diakhirnya).’” (HR. Daud Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Ibnu Majah: 3264)

Nasihat Rasulullah kepada anak kecil sebagaimana sabda Nabi, ‘Wahai anak, bacalah Bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu’ (HR Bukhari, no 5376)

Seorang muslim hendaknya berusaha untuk selalu membaca bismillah ketika akan makan.  Apabila ia lupa dan ingat ketika di pertengahan makan, maka hendaknya ia membaca: Bismillahi fi awwalihi wa akhir (Dengan nama Allah di awal dan di akhir).

Seseorang yang tidak membaca Bismillah, maka syaitan akan makan bersamanya dan dia akan memakan makanannya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah bersabda, ‘Apabila seseorang memasuki rumahnya dan berdzikir kepada Allah ketika ia masuk dan ketika akan makan, maka setan berkata: “Tidak ada kesempatan menginap dan makan malam bagi kalian”. 

Apabila ia masuk rumahnya namun ia tidak berdzikir kepada Allah, maka syaitan berkata: “Kalian mendapatkan tempat menginap” Apabila ketika makan tidak berdoa maka setan berkata: “Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam” (HR Muslim)

Itulah sebabnya Rasulullah mengajarkannya kepada Umar bin Abi Salamah yang masih kecil, ‘Wahai anak! Bacalah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu’ (HR Bukhari no 5376)

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, ‘Apabila anda makan, maka ucapkan bismillah’ (Shahihah, no 344) ‘Apabila salah seorang di antara kamu makan, maka ucapkanlah bismillah. Apabila dia lupa mengatakannya di permulaan makan maka ucapkan, “Dengan nama Allah, di awal dan diakhirnya” (HR Tirmidzi, no. 1858-shahih)

Demikianlah yang diajarkan Rasulullah dalam setiap hadistnya.  Beliau tidak menambahnya dengan (ar rahmaan ar rahiim) sebagaimana yang sering dilakukan kebanyakan orang.  Dalam hadist lain disebutkan, ‘Apabila dihidangkan makanan kepada Rasulullah beliau mengucapkan bismillah’ (HR Ahmad, no 19179 dan Shahihah, no 71)

Dengan demikian tambahan ar rahmaan ar rahiim tidak pernah diajarkan Rasulullah.  Maka harus kita tinggalkan disaat makan.  Jangan menambah, “Apa beratnya menambah ar rahmaan ar rahiim?.  Kalimat tersebut baik dan tidak dosa mengucapkannya”

Tetapi harus kita perhatikan dengan adil, Pertama, jika itu baik,  nescaya Nabi akan melakukannya.  Namun beliau tidak melakukannya.  Kedua, hal demikian termasuk membebani diri dengan sesuatu yang tidak pernah di bebankan oleh syariat.  Sebaiknya ditinggalkan.  Ketiga, hal itu jauh dari tuntunan Rasulullah yang tidak menambahkan dengan ar rahmaan ar rahiim, Rasululah bersabda, ‘Barangsiapa melakukan suatua amalan yang tidak pernah kami perintahkan, maka ia akan tertolak” (HR Muslim, no 4468).  Juga hadist ini, “Setiap yang bid’ah adalah sesat” (HR Muslim, no 2002)

Ada banyak atsar penjelas dari hadits2 diatas. Misalnya, “tidak boleh menambahkan sesuatupun dalam hal ibadah, kemudian terus membiasakannya, padahal syariat sudah mengajarkannya kepada kita”.

Ada seorang yang bersin di samping Abdullah bin Umar dan berkata, “Segala puji bagi Allah dan keselamatan untuk Rasulullah” Ibnu Umar berkata, “Bukan ini yang diajarkan Rasulullah.  Beliau mengajarkan kami untuk mengucapkan: Alhamdulillah (Segala puji  bagi Allah) (HR Tirmidzi, no 2738 shahih)

- Makan Dengan Tangan Kanan

Nasihat Rasulullah kepada anak kecil sebagaimana sabda Nabi, ‘Wahai anak, bacalah Bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu’ (HR Bukhari, no 5376)

Wajib bagi setiap muslim untuk makan dan minum dengan tangan kanannya, serta membiasakan anak anaknya melakukan yang demikian.  Jangan sama dengan syaitan atau musuh musuh Allah lainnya yang makan dengan tangan kiri.  Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda, “Apabila seorang d iantara kamu makan maka makanlah dengan tangan kanannya, apabila ia minum maka minumlah dengan tangan kanannya.  Sesungguhnya syaitan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya” (HR Muslim, no 5233)

Rasulullah bersabda kepada seorang wanita yang makan dengan tangan kirinya, ‘Janganlah kamu makan dnegna tangan kirimu.  Karena Allah telah membuatkan untukmu tangna kanan atau Allah telah memberimu tangan kanan’ (HR Ahmad dan di shahihkan oleh syaikh Albani dalam Jilbab Muslimah hal 71 cet. I)

Itulah sebabnya Ibnul Qayyim mengatakan, ‘Makan dengan tangan kiri diharamkan’ (Zaadul Ma’ad, 2/405).  Karena tangan kanan digunakan untuk sesuatu yang mulia seperti berjabat tangan, bertashbih, memberi, mengambil dll (HR Ibnu Majah, no 3329-shahih)
Juga larangan Rasulullah untuk memegang kemaluan dan beristinjak dengan tangan kanan (HR Bukhari no 135).  Maka sangat tepat kalau makan khusus dengan tangan kanan, kerana itu sesuai dengan akhlak yang mulia dan sopan.

- Hendaknya mengakhiri makan dengan pujian kepada Allah.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa telah selesai makan hendaknya dia berdo’a: “Alhamdulillaahilladzi ath’amani hadza wa razaqqaniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin. Niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Daud, Hadits Hasan)

Yang artinya:
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan ini kepadaku dan yang telah memberi rizki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.”

- Hendaknya makan dengan menggunakan tiga jari tangan kanan.

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan menggunakan tiga jari.” (HR. Muslim, HR. Daud)

Sunnahnya Makan Dengan Menggunakan Tiga Jari Dan Sunnahnya Menjilati Jari-jari Serta Kemakruhan Mengusap Jari-jari Sebelum Menjilatinya, Juga Sunnahnya Menjilati Piring Dan Mengambil Suapan Yang Jatuh Daripadanya Terus Memakannya, Juga Bolehnya Mengusap Jari-jari Sesudah Dijilati Pada Tangan, Kaki Dan Lain-lain Sebagainya

Dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma,katanya:"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;
"Jikalau seseorang dari engkau semua makan sesuatu makanan, maka janganlah mengusap jari-jarinya sebelum menjilatnya - untuk mendapatkan keberkahan - atau menjilatkannya - kepada orang lain seperti kepada anaknya, muridnya dan lain-lain." (Muttafaq 'alaih)

Nomor:744
Sumber: riyadhus-shalihin

Hendaknya menjilati jari jemarinya sebelum dicuci tangannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila salah seorang diantara kalian telah selesai makan maka janganlah ia mengusap tangannya hingga ia menjilatinya atau minta dijilati (oleh Isterinya, anaknya).” (HR. Bukhari Muslim)

Apabila ada sesuatu dari makanan kita terjatuh, maka hendaknya dibersihkan bagian yang kotornya kemudian memakannya.

Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila ada sesuap makanan dari salah seorang diantara kalian terjatuh, maka hendaklah dia membersihkan bagiannya yang kotor, kemudian memakannya dan jangan meninggalkannya untuk syaitan.” (HR. Muslim, Abu Daud)

Hendaknya tidak meniup pada makanan yang masih panas dan tidak memakannya hingga menjadi lebih dingin, hal ini berlaku pula pada minuman. Apabila hendak bernafas maka lakukanlah di luar gelas, dan ketika minum hendaknya menjadikan tiga kali tegukan.

Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk menghirup udara di dalam gelas (ketika minum) dan meniup di dalamnya.” (HR. At Tirmidzi)

Hendaknya menghindarkan diri dari kenyang yang melampaui batas.

Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk bernafasnya.” (HR. Ahad, Ibnu Majah)

Makan memulai dengan yang letaknya terdekat kecuali bila macamnya berbeda maka boleh mengambil yang jauh.

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Wahai anak muda, sebutkanlah Nama Allah (Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.” (HR. Bukhari Muslim)

Hendaknya memulai makan dan minuman dalam suatu jamuan makan dengan mendahulukan (mempersilakan mengambil makanan terlebih dahulu) orang-orang yang lebih tua umurnya atau yang lebih memiliki derajat keutamaan.

- Makan Secara Berjemaah

Termasuk hal yang paling di cintai Allah, dianjurkan Rasulullah serta di berikan banyak berkah adalah makan dengan cara berjamaah.  Rasulullah bersabda,  “Makanan yang paling dicintai Allah adalah makanan yang banyak tangan memakannya” (Shahihah, no. 895)

Salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami makan, tapi mengapa tidak pernah kenyang?’  Rasulullah menjawab, ‘Mungkin kamu makan sendiri sendiri”.  Mereka menjawab, “Ya”

Lalu Rasulullah bersabda, “Berkumpullah pada makanan makananmu, dan bacalah nama Allah.  Niscaya Allah akan memberimu berkah padanya” (HR Ibnu Majah-shahih)

Dengan petunjukkan Rasulullah yang sangat jelas seperti ini, seharusnya kita sebagai umatnya harus mempraktekkannya dalam kehidupan nyata.  Tapi seringkali orang menganggapnya sudah ketinggalan zaman karena merekasudah terbiasa makan sendiri sendiri.  Atau bisa juga karena telah berkurangnya keyakinan dan cintanya kepada Nabi.

Dari Abu Huratrah Radhiyallahu 'anhu , katanya: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Makanan untuk dua orang itu dapat mencukupi tiga orang sedang makanan untuk tiga orang itu dapat mencukupi empat orang." (Muttafaq 'alaih)

Nombor:751
Sumber: riyadhus-shalihin

 Makan bersama sama hanya kita lakukan bila ada pesta atau kenduri.  Tetapi bila kita jarang diundang pesta, maka tentu saja kesempatan untuk makan bersama menjadi jarang sekali terjadi.  

Sebenarnya ada banyak cara bagi kita untuk bisa makan bersama sama dengan orang lain, tanpa harus ‘bersama sama’.  Misalnya masakan di rumah sehari hari.  Mungkin kita bisa menyisihkan sayurnya semangkok untuk tetangga sebelah kiri.  Esoknya menyisihkan sepotong ikan atau ayam dan sepiring nasinya (tentu setelah di tata dengan baik sehingga indah dipandang, meski isinya hanya sepiring nasi dan sepotong lauk) untuk di berikan kepada tetangga sebelah kanan.

Begitu seterusnya.  Pemberian kecil itu ibarat kita telah mengajak para tetangga kita untuk makan bersama sama, meskipun tidak makan dalam waktu dan ruang yagn bersamaan.  Bukankah Rasulullah juga mengingatkan kita untuk selalu memperbanyak kuah bila sedang memasak makanan, dan sehingga makanan itu bisa cukup untuk di bagikan kepada tetangga?

Banyak berkah yang insyaAllah bisa kita dapatkan dengan kebiasaan seperti itu.  Selain kita bisa merasakan ‘kenyang’ karena telah makan bersama sama, maka silaturahmi kita dengan tetangga bisa terjalin dengan lebih erat.  hal ini bahkan bisa memupuk rasa belaskasih kita dan melembutkan jiwa.  Jadi memang, seperti sabda Rasul, makan bersama mengantarkan kita kepada banyak keberkahan

Tidak makan makan yang masih terlebih panas

Maukah anda saya tunjukkan sumber keberkahan yang banyak di lupakan orang?  Yaitu seseorang yang tidak langsung mengkonsumsi makanan yang masih panas.  Tetapi dia menunggunya hingga agak dingin.  Bila dibawakan sup,  Asma binti Abu Bakar menyuruh untuk dibiarkan agar hilang panas dan asapnya.  Dia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah bersabda: ”Hal seperti itu lebih banyak berkahnya(Fathul  Mannan Takhrij hadits Darimi, no 2180)

Abu Hurairah juga berkata, ‘Janganlah memakan makanan, kecuali telah hilang asapnya’ (Irwa’ no 1978)
Para ulama mencela orang yang makan makanan yang masih sangat panas dan tidak sabar menunggunya  hingga dingin.  Dia menyangka tidak panas padahal airmatanya sampai keluar, atau dia memuntahkan dari mulutnya, atau segera meminum air dingin agar bisa masuk.  Hal yang demikian tidak baik bagi pencernaannya. (Kitab Al muakalah)

Sekarang, muncul pertanyaan, sudah menjadi tradisi di banyak kalangan bahwa sebagian minuman tidak bisa diminum kecuali masih sangat panas, seperti kopi atau bakso pada makanan.  Rasulullah menganjurkan untuk  menunggu dengan sabar hingga berkurang panasnya kemudian baru di konsumsi.  Sehingga kita bisa menikmatinya dalam keadaan hangat yang menyenangkan dan melegakan.

- Makan sambil bersandar makruh

Dari Abu Juhaifah yaitu Wahab bin Abdullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , katanya: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Saya tidak akan makan sambil bersandar - muttaki'." (Riwayat Bukhari)
Al-Khaththabi berkata: Almuttaki' di sini ialah orang yang duduk sambil bersandar pada kasur yang diletakkan di bawahnya." Katanya: "Orang itu bukannya berkehendak akan duduk di atas kasur atau bantal-bantal seperti kelakuan orang yang menghendaki untuk memperbanyakkan makanan, tetapi ia duduk sambil gelisah duduknya dan tidak tenang, juga makannya itu secukupnya belaka. Inilah yang diucapkan oleh al-Khaththabi.
Selain al-Khaththabi mengisyaratkan bahwasanya muttaki' ialah orang yang miring duduknya pada lambungnya yang sebelah. Wallahu a'lam.

Nomor:742
Sumber: riyadhus-shalihin

- Perintah Makan Dari Tepi Piring Dan Larangan Makan Dari Tengahnya

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , sabdanya:
"Keberkahan itu turun di tengah makanan, maka makanlah engkau semua dari kedua tepi makanan itu dan janganlah makan dari tengahnya."
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Nomor:740
Sumber: riyadhus-shalihin

- Kemakruhan Meniup Dalam Minuman

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kalau ditarik nafas dalam wadah - waktu minum - atau ditiupkan di dalamnya."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Nomor:762
Sumber: riyadhus-shalihin 

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...